BERITA TEKNOLOGI | berita teknologi komunikasi - BERITA TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY NEWS | BERITA TECHNOLOGY

Breaking

About Me

Senin, 15 Juli 2019

BERITA TEKNOLOGI | berita teknologi komunikasi

Hasil gambar untuk Bisnis Reparasi Tv Jadul Masih Eksis di Tengah Perkembangan Digital

BERITA TEKNOLOGI | Bisnis reparasi dan jual beli tv jadul tidak lagi hal yang gampang didatangi sekarang ini, lagipula di Jakarta. Mungkin melulu ada sejumlah yang masih bertahan guna menggantungkan hidup sebagai tukang membetulkan tv jadul tersebut.

Sekarang, tontonan tv telah jadi satu asupan hiburan yang biasa dinikmati masing-masing orang. Berbagai macam televisi sudah dimodifikasi semua produsen untuk supaya tak melulu memberi tontonan biasa, namun pun hiburan lainnya. Tv-tv digital nan pintar juga bermunculan.

Di tengah pertumbuhan teknologi tersebut, sejumlah orang masih bertahan di bisnis reparasi tv jadul. Lantas bagimana nasibnya bisnis itu di tengah terjangan teknologi digital? Simak berita lengkapnya.

Salah seorang penyedia jasa reparasi tv jadul Nano Sukarno, menuliskan perkembangan teknologi yang terjadi ketika ini memang tidak sedikit berdampak terhadap bisnis yang digelutinya. Seiring masa-masa berjalan, pemakai jasanya terus menurun.

"Kalau ini bagaimana ya, ya pasang surut. Sekarang alhamdulillah standar. Kalau baru-baru masuk tv panel, lcd, ya tersebut agak turun. Menurun drastis," kata Nano untuk detikFinance sejumlah waktu kemudian di kiosnya area Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Meski begitu, Nano menyatakan masih punya pelanggan setia. Paling tidak, dalam sehari Nano dapat mendapat pelanggan paling tidak 1 orang. Menurutnya, kondisi tersebut sudah terbilang lumayan.

"Kalau dulu, pas belum hadir tv yang tipis-tipis dapat lima pelanggan sehari. Ya namun tergantung pun sih sebenarnya, namanya pun bisnis terdapat naik turun. Disyukuri saja," katanya.

Untuk meningkatkan peluang penghasilan, sekarang Nano tak melulu membuka jasa reparasi tv tabung, tapi pun menjualnya. Hasil penjualannya pun lumayan lumayan guna memenuhi keperluan keluarganya sehari-hari.

"Kalau kini tv 14 inchi dapat Rp 250-300 ribu anda jual. Itu sudah situasi siap pakai. Kita garansi sebulan. Kalau yang 21 di atas Rp 500 ribu, tergantung kondisi," kata dia.

Dari usahanya itu, dalam sebulan rata-rata Nano masih dapat mendapatkan pendapatan Rp 4 juta. Meski lumayan besar guna ukuran reparasi tv jadul, tetapi kata Nano pendapatan yang didapatnya tersebut sejatinya menurun.

Dia bilang, ketika masa jaya-jayanya tv tabung, ia bahkan dapat mendapatkan pendapatan lebih dari itu. Walau begitu, Namo menyatakan tetap bersykur masih dapat mengais rezeki dari bisnis reparasi tv. Ia mempercayai masih ada tidak sedikit pelanggan yang mau memakai jasanya walau berlahiran tv-tv pintar.

"Namanya pun perkembangan zaman ya, anda harus enjoy aja. Yang penting dapat ngebul bikin dapur ya," kata Nano.
Nano Sukarno mengaku, dirinya masih bertahan di bisnis tersebut sebab masih mempunyai pelanggan masing-masing yang memakai jasanya, baik guna reparasi maupun jual beli tv. Dia bilang, kalangan menengah ke bawah menjadi segmentasi utama yang disasarnya.

"Orang namanya bisnis tentu masih dapat bertahan sebab ada yang gunakan jasanya. Kalau telah nggak terdapat pelanggan ya baru berhenti. Tapi kan saya dari dulu sampai kini ada saja pelanggan, alhamdulillah," kata Nano untuk detikFinancebeberapa waktu kemudian di kiosnya area Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan.

Nano bercerita, dirinya sendiri terjun ke bisnis ini karena desakan dari orang tua. Dia mengatakan, dulu, orang tuanya pun menjalani bisnis reparasi laksana dirinya. Karena itu, dia mengekor jejak orang tua sampai sekarang.

"Saya tadinya juga nggak terlampau minat, tapi sebab ada desakan dari orang tua, kemudian diajari. Dari zaman radio dulu, belum terdapat tv. Jadi dari orang tua tadinya radio-radio, belum terdapat tv, tahun 1975-an," katanya.

"Ya alhamdulillah sampai kini lah ya, barangkali barokah ya. Karena nurut sama orang tua kali ya. Jadi masih dapat hidup dan bertahan sampai kini dari usaha ini," sambungnya.

Nano menuliskan sebenarnya tak memiliki kendala yang berarti dalam menjalani usaha ini. Dia pun mengaku tak kendala mendapat komponen yang dibutuhkan untuk membetulkan tv jadul yang telah tak diproduksi tersebut. 

Baca Juga : Jual Kopi Lampung Robusta

"Jadi bila komponen anda tetap siap guna stok sih. Jadi maksudnya terdapat yang kirim mereka, kan tersebut barang-barangnya orisinal tuh, jadi kanibal. Ada yang suka kirim ke sini. Kadang bila beli komponen baru kadang nggak dapat pakai. Nggak tau deh, apa dari pabrik telah bagaimana nggak tahu juga," katanya.

Lebih dari itu, Nano menuliskan bahwa dalam menjalani bisnis ini yang paling diperlukan ialah kejujuran dan keyakinan pelanggan. Sebab, kata dia, sekali pelanggan merasa kecewa dengan jasanya, maka pelanggan baru pun tak bakal datang.
Nano menyatakan meski omzetnya merasakan penurunan dari masa-masa ke waktu, tetapi ia masih dapat bertahan sampai sekarang. Walau melulu satu, tetapi pelanggan masih datang masing-masing hari untuk menggunakan jasanya. Pundi-pundi rupiah juga masih terus mengalir ke dirinya.

"Ya barangkali Rp 4 juta sebulan rata-rata masih masuk ya. Lumayan lah alhamdulillah," kata Nano untuk detikFinance sejumlah waktu kemudian di kiosnya, Kebayoran, Jakarta Selatan. 

Dulu, saat waktu jaya bisnis tv jadul pada krismon 1997-1998, Nano bahkan mengaku dapat mendapatkan omzet lebih tinggi dari kini ini. Bisa menjangkau Rp 6 juta per bulan. Omzet yang lumayan besar pada masa itu.

"Kalau dulu masa-masa krisis moneter dulu, tersebut lumayan bagus, Harga second cukup bagus. Dari situ anda stok barang saja sampai kelemahan ya. Karena tidak sedikit peminat kan permintaan tinggi. Jadi saat tersebut lebih tidak sedikit jual daripada service," jelasnya.

Saat itu, kata Nano, dia dapat menjual tv tabung bekas ukuran 14 inchi dengan harga selama Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Bagi ukuran 21 inchi lebih banyak lagi, dapat mencapai Rp 1 juta lebih.

"Kalau kini 14 inchi, dapat Rp 250 ribu-Rp 300 ribu anda jual. Itu sudah situasi siap pakai. Kita garansi sebulan. Kalau yang 21 di atas Rp 500 ribu, tergantung kondisi," katanya.
Pakar Bisnis dari Universitas Indonesia Rhenald Kasali menuliskan bisnis lawas laksana reparasi dan jual-beli tv jadul susah untuk dapat bertahan ke depannya. 

"Bertahan sih nggak ya, mereka melulu menyelesaikan sisa-sisa hidup saja. Contohnya koran kini kan tidak terdapat pendapatannya. Pendapatan dari jualan koran nggak ada, bukan sebagai yang utama. Tapi masih terdapat orang yang beli. Sama pun dengan dagangan jadul laksana televisi, hanya masih terdapat yang koleksi saja mungkin," kata Rhenald.

Rhenald mengatakan, tv tabung kini ini bukan sebagai perlengkapan yang mendampingi generasi baru. Menurutnya, melulu orang-orang tua yang banyak sekali masih memakai perangkat tersebut.

"Tapi bukan mendampingi satu generasi yang sifatnya masal. Orang-orang tua ini, bukan guna gaya hidup. Orang tua tidak butuh dengan gaya hidup. Jadi bisnis tv tabung laksana itu melulu mengisi celah-celah kekosongan," jelasnya.

Lebih lanjut Rhenald menilai, bahwa banyak sekali yang masih menjalankan profesi di bidang tv jadul ini merupakan orang tua. Mereka, kata Rhenald, dinilai susah untuk dapat mengikuti pertumbuhan zaman dan menggali peluang di bisnis lainnya.

"Pasti ahli-ahlinya orang-orang tua juga, jadi mereka melulu punya kemahiran seperti reparasi itu. Jadi mereka tidak gampang untuk switch, jadi mereka tergerus dengan zaman. Mereka cuma dapat menunggu sampai tergerus saja," katanya.

"Dalam pandangannya saja orang jadul, tetap jadul, melulu manggut-manggut, misal mudahnya contoh pemakaian WhatsApp, mereka tentu kesusahan guna menggunakannya. Kalau juga ada, yang menginstall tentu orang lain," sambung Rhenald.

Sementara, tambah Rhenald, bila masih terdapat anak muda yang menjalankan profesi ini dianjurkan untuk mulai mencari kemahiran baru mengekor perkembangan zaman. Anak muda dinilai masih punya peluang yang lebih baik dalam mengupayakan hal baru.

"Kalau dia pelaku usahanya masih muda mesti dapat berpindah. Jadi memang mesti ikuti zaman, contohnya dia kini reparasi tv tabung, nah tersebut harus dapat belajar bagaimana membetulkan tv led atau lcd yang tipis-tipis. Kalau tidak begitu, susah dia bertahan," tutupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar